Tampilkan postingan dengan label Air Asia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Air Asia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Januari 2015

2 Jenazah Perempuan Diterbangkan ke Surabaya, Fisik Tak Dikenali



Pagi ini, dua jenazah korban AirAsia QZ8501 diterbangkan ke Surabaya setelah dipetikan di RSUD Imanuddin. Dua jenazah ini sebelumnya sempat dibaringkan di Cold Storage.

"Jenazah yang kami terima tadi sekitar pukul 02.00 WIB dengan nomor kode 039 adalah wanita dewasa," ujar Kordinator DVI Polri Kombes dr Hariyanto di RSUD Imanuddin, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Rabu (7/1/2015).

Sebelumnya juga telah ada jenazah perempuan dewasa yang menginap di cold storage sejak pukul 17.00 WIB kemarin (6/1). Jenazah ini sulit dikenali sehingga perlu dibaringkan di cold storage agar tidak semakin rusak.

"Untuk ciri-ciri fisik sudah sangat sulit dikenali. Bagian tubuh yang tidak tertutup pakaian sudah rusak dan beberapa sudah terlepas," imbuh Hariyanto.

Kini kedua jenazah sudah diantarkan ke Lanud Iskandar untuk diterbangkan ke Surabaya menggunakan pesawat CN 295 milik TNI. Selanjutnya jenazah akan menjalani proses identifikasi.

"Kami bersandar pada pemeriksaan DVI di sana," pungkas Hariyanto.

Supported By:

Kamis, 01 Januari 2015

Pangarmabar: Kapal Perang Amerika Temukan 6 Jenazah, Kapal Malaysia 1

http://sellytandiana889.blogspot.com/

gabungan kembali menemukan jasad korban pesawat AirAsia QZ5801 sebanyak tujuh. Enam jenazah ditemukan dari Kapal Perang AS USS Sampson dan Kapal Malaysia HD Lekir.

"Kapal perang Amerika menemukan 6 jenazah," kata Panglima Komando RI Armada Wilayah Barat (Pangarmabar) Laksamana Muda (Laksda) Widodo di KRI Banda Aceh, Teluk Kumai, Kalimantan Tengah, Jumat (2/1/2014).

Kapal bernama Sampson 102 ini rencananya akan merapat ke Pangkalan Bun pukul 11.00 WIB. Sementara 1 jenazah lagi ditemukan di kapal perang milik Malaysia, Kapal Diraja (KD) Lekir.
"Kapal Hang Lekir sudah mengambil 1 jenazah," ujarnya.

Jenazah dari KD Lekir ini akan dibawa ke KRI Banda Aceh, kemudian akan diterbangkan ke Pangkalan Bun menggunakan heli.

Pihak Basarnas selaku koordinator pencarian AirAsia ini belum angkat bicara mengenai temuan tujuh jenazah pada hari ini. Untuk diketahui per Kamis (1/1/2015), kemarin, jumlah jenazah yang ditemukan sebanyak sembilan.

Supported By:

Ligaasia.com

Rabu, 31 Desember 2014

Pilot Hercules Ini Sudah Prediksi Area Jatuhnya QZ8501 di Selat Karimata Sejak Hari Pertama

http://sellytandiana889.blogspot.com

Lokasi serpihan dan korban pesawat AirAsia ditemukan di Selat Karimata-Laut Jawa, sebelah selatan Pangkalan Bun melalui penyisiran dari udara pada hari ketiga, Selasa (30/12/2014). Pilot TNI AU memprediksi area jatuhnya pesawat beradai perairan tersebut sejak hari pertama.

Pesawat Hercules TNI AU A-1323 merupakan pesawat pertama yang melakukan penyisiran untuk mencari pesawat AirAsia rute Surabaya-Singapura yang hilang kontak sejak Minggu (28/12) pagi lalu. Hercules yang saat itu dipiloti oleh Mayor Pnb Akal Juang langsung diterjunkan pada siang harinya untuk menyusuri wilayah tempat AirAsia QZ8501 terakhir terdeteksi yaitu di Perairan Tanjung Pandan.

"Kami pesawat pertama yang mencari dari pukul 13.00-19.00 WIB. Sudah harus terbang dalam 1 jam sejak perintah dikeluarkan di mana pada saat itu posisi kami ada di rumah," ujar Mayor Akal kepada detikcom di Lanud Halimperdanakusuma, Jaktim, Rabu (31/12/2014).

Akal pun mengaku, setelah mendapat informasi mengenai data-data hilangnya AirAsia jenis Airbus A-320 itu, ia bersama tim yang berangkat sudah memprediksi di mana wilayah jatuhnya pesawat. Namun akibat beberapa kendala, tim pulang tanpa membawa hasil.

"Waktu itu kami pertama dan harus menjangkau area yang sangat luas sendiri. Cuma saat itu belum muncul tanda-tanda. Tapi kami sudah memperkirakan di situ lokasinya," kata pria asal Yogyakarta tersebut.

Dalam operasi pencarian pesawat yang kemungkinan jatuh di laut, Akal mengatakan pilot dan tim pesawat harus tahu mengenai beberapa hal. Seperti lokasi tempat terakhir pesawat terdeteksi, cuaca, dan berapa lama jarak waktu kejadian sampai tim akan bergerak ke sasaran lokasi.

Fenomena alam setempat menjadi poin penting dalam operasi penyusuran. Seperti arus laut, rute pesawat hilang, waktu lost contact dan sebagainya.

"Dengan perhitungan data-data tersebut maka jika terjadi penyimpangan maka kita bisa perkirakan arahnya. Kita harus berpikir seperti pilot tersebut, kalau ada darurat akan cari bandara terdekat. Karena rata-rata perencanaan pilot itu sama. Jalur atau traffic kan sama," jelas perwira lulusan AAU tahun 1998 itu.

Atas pertimbangan-pertimbangan itulah maka Akal dan timnya sudah memprediksi letak jatuhnya pesawat seperti yang akhirnya banyak ditemukan serpihan-serpihan pesawat AirAsia. Masalah waktu disebutnya juga menjadi alasan mengapa ketika pertama kali melakukan pencarian, mayat dan serpihan tidak langsung ditemukan.

"Mungkin saat itu posisi masih ada di bawah, perlu ada waktu hingga akhirnya (serpihan dan mayat) naik ke permukaan. Hari Minggu kami terbang di area tersebut selama 2 jam," tutur Akal.

"Hari kedua dan berikutnya area pencarian diperluas, ada pembagian lokasi penyusuran dengan pesawat lainnya. Tapi kami sudah yakini lokasi ada di area itu makanya kami insist tetap menyusuri terus dia situ karena kami yakin. Hanya menunggu waktu saja," sambung bapak anak dua ini.

Pencarian Akal bersama tim berhasil menemukan serpihan dan mayat pada hari ketiga operasi SAR dengan menggunakan Pesawat Hercules A-1319, Selasa (30/12). Atas petunjuk dari A-1319 dan temuan dari beberapa pesawat TNI AU lainnya di waktu yang sama, beberapa barang, serpihan dan dan mayat kini sudah berhasil dievakuasi.

Supported By:

Selasa, 30 Desember 2014

Apa Penyebab AirAsia Celaka? CEO Tony Fernandes Serahkan ke Ahli


www.ligaasia.com

CEO AirAsia Tony Fernandes hadir di Surabaya. Dia bertemu Presiden Jokowi dan keluarga penumpang AirAsia QZ8501. Tony menyampaikan dirinya tak akan lari dari tanggung jawab.

Tony juga menyampaikan dirinya tak tahu apa penyebab AirAsia mengalami kecelakaan.

"Kami sampai saat ini tidak tahu apa yang salah," kata Tony dengan raut wajah sedih di Bandara Juanda, Surabaya, Selasa (30/12/2014).

Tony menyampaikan simpati kepada para keluarga korban. Dia juga menegaskan yang utama evakuasi. Kembali soal penyebab kecelakaan, sepenuhnya diserahkan ke hasil penelitian kotak hitam oleh para ahli.

"Saya tak ingin berspekulasi, kami serahkan ke para ahli," tambahnya.

Tony juga menegaskan, kecelakaan ini tak mempengaruhi keberadaan AirAsia di Indonesia. Jumlah penumpang AirAsia terus tumbuh di Indonesia.

"Kami akan terus beroperasi di Indonesia," tutup dia.

Supported By: