Selasa, 27 Januari 2015

Polisi Cepek, Sebuah Pekerjaan Rumah untuk Pak Ahok




Polisi cepek, itu nama pemberian orang-orang yang konon dengan baik hati membantu kendaraan berputar balik atau menyeberang. ‘Cepek’ karena para pengendara waktu itu memberikan polantas wannabe tersebut uang recehan Rp 100 rupiah atas jasa mereka.

Seiring waktu, jumlah polisi cepek ini sepertinya semakin bertambah dalam menjaga putaran balik, pertigaan maupun perempatan di jalan-jalan ibukota. Walaupun saat ini uang yang mereka minta atau harapkan sudah bukan Rp 100 lagi, mereka tetap disebut polisi cepek.

Keberadaan mereka bukan tanpa masalah. Ada yang merasa terbantu, tapi ada juga yang merasa keberadaan polisi cepek justru membuat jalan-jalan makin macet. Bahkan kadangkala ada juga polisi cepek yang meminta uang ke pengendara dengan paksaan. Jika tidak diberi, ada saja ulah mereka. Mulai dari makian, umpatan, maupun membaret mobil dengan paku.

"Kita sendiri juga terbantu tapi terkadang ada juga yang buat perkara tetapi kita tidak bisa tindak karena bukan wewenang kami. Kalaupun dilegalkan tidak bisa juga permasalahan ini harus diselesaikan saling berkaitan," tutur Kasat Lantas Polres Jakarta Timur AKBP Haris kepada detikcom, Selasa (27/1/2015).

Haris mengatakan polisi cepek atau yang juga kerap dipanggil pak ogah ini sering beroperasi di putaran balik di depan tempat uji KIR Ujung Menteng. Gara-gara aksi mereka, jalanan yang padat kian macet sehingga polisi menutup putaran itu.

"Kalau dulu tiap pagi itu selalu macet karena banyak kendaraan yang hendak uji KIR dan pak ogah. Sekarang ini sudah kita tutup dan justru malah lebih lancar," ujarnya.

Tidak hanya masalah kemacetan yang bisa timbul karena polisi cepek atau pak ogah ini. Beberapa keributan yang berujung dengan bentrokan antar kelompok sering dikaitkan dengan perebutan putaran balik, seperti tawuran Pasar Rumput dan tawuran Manggarai.

Bagaimana Pak Ahok?

Supported By:

Senin, 26 Januari 2015

Facebook Tumbang!




Pengguna Facebook kesulitan untuk mengakses ke akun jejaring sosial miliknya. Keluhan ini langsung menyebar melalui media sosial lainnya, seperti Twitter.

Selasa (27/1/2015), Facebook yang diakses baik melalui browser maupun versi mobile tak bisa masuk. Diketahui hanya berputar-putar saja tanpa bisa masuk.

Diulang hingga beberapa kali pun tetap tidak bisa masuk ke akun Facebook. Sekalinya pun berhasil, hanya ditampilkan informasi yang berbunyi "Sorry, Something Went Wrong."

Sejumlah Twitter yang mengeluhkan masalah ini mengatakan bahwa mereka sudah mengalami ini sejak beberapa waktu yang lalu.

"Sudah sejak tadi saya tak bisa mengakses ke Facebook. Di komputer maupun mobile. Tampaknya lagi down," ujar pengguna Facebook asal Indonesia, Dwi.

Kejadian ini tidak hanya menimpa pengguna di Tanah Air saja. Karena, masalah Facebook down ini juga dialami di seluruh dunia.

Sampai berita ini dibuat, Facebook masih belum bisa diakses dan belum ada konfirmasi mengenai masalah tersebut.

Supported By:

Apa Tujuan Bentuk Tim Independen? Jokowi: Makin Banyak Masukan Makin Baik




Presiden Jokowi baru saja membentuk Tim independen untuk meredam kisruh KPK Vs Polri yang terdiri dari 8 orang. Jokowi mengatakan semakin banyak yang memberi masukan disamping Wantimpres semakin baik.

"Ya kan enggak apa-apa kan, Wantimpres juga kasih pertimbangan kemudian dari tim juga berikan masukan-masukan. Semakin banyak masukan semakin baik," jelas Jokowi di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (26/1/2015).

Apakah Tim Independen nantinya perlu Keppres?
"Ya nanti dilihat," terang Jokowi sambil terkekeh.

Presiden Joko Widodo mengundang 7 tokoh pada Minggu (25/1) malam untuk memberikan masukan terkait ketegangan Polri dan KPK‎. Adapun anggotanya antara lain Mantan Ketua MK Jimly Asshiddiqie, mantan Wakil Ketua KPK Erry Riyana Hardjapamekas, mantan Wakapolri Komjen (purn) Oegroseno, pengamat kepolisian dan akademisi Bambang Widodo Umar, Guru Besar Hukum Internasional UI yang juga mantan Tim-8 kasus cicak vs Buaya Hikmahanto Juwana, mantan pimpinan KPK Tumpak Hatorangan Panggabean, dan Buya Syafii Maarif.

Supported By: